Rekapitulasi

Ditemani suara kembang api yang sayup terdengar dari kamar saya inilah, saya mencoba merangkai kata. Membentuk suatu kumpulan kalimat yang akan saya tulis untuk terakhir kalinya pada tahun 2016.

Klise.

Hampir semua orang suka melemparkan pandangan kembali ke belakang, kepada perjalanan-perjalanan yang telah mereka alami, peristiwa demi peristiwa yang mereka lalui, maupun pelajaran berharga yang mereka dapat dalam waktu dua belas bulan yang lalu.

Termasuk diri saya.

Klise.

Permulaan 2016 bukanlah awal yang mudah bagi saya. Sebuah ujian di datangkan pada saya. Ujian yang belum pernah saya terima sebelumnya. Bahkan pada awalnya saja, 2016 sudah terasa pahit.

Klise.

Di saat yang sama, 2016 menjadi batu loncatan bagi saya. Ditengah kesibukan belajar di sekolah menengah atas, saya juga memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam banyak hal. Saya menjadi bagian dari beberapa organisasi. Saya mulai memaksakan diri untuk menulis lagi, karena kemampuan seseorang bukanlah ada hanya karena bakat, namun juga kebiasaan. Saya menantang diri mengikuti kompetisi-kompetisi ; dalam sekolah, antar sekolah, antar kota, antar provinsi, hingga kompetisi nasional. Saya juga bertekad menguasai bahasa Inggris hingga kemampuan saya selihai orang yang bahasa ibunya adalah bahasa tersebut. 

Dan, ya. Banyak hal yang terjadi untuk pertama kalinya pada tahun 2016.

Klise.

Untuk pertama kalinya, dalam tiga hari kemping, saya hanya mendapatkan waktu tidur selama dua jam.

Untuk pertama kalinya, saya melupakan isi sila ke 4 Pancasila pada saat berada di tengah-tengah kompetisi debat bahasa Indonesia.

Untuk pertama kalinya, saya membeli buku dengan voucher toko buku yang saya hasilkan dari keringat saya sendiri ; memenangkan sebuah kompetisi menulis online yang di selenggarakan oleh salah satu toko buku di Indonesia. 

Untuk pertama kalinya, saya pergi ke suatu pentas musik bersama teman-teman dan baru tiba di rumah pada tengah malam. 

Untuk pertama kalinya, saya memiliki nyali mengunggah video di channel youtube saya sendiri. Meski hanya untuk keperluaan lomba.

Untuk pertama kalinya, saya bisa mengudara dan naik kapal terbang.

Untuk pertama kalinya, saya pergi ke bandara dan pulang dari bandara seorang diri. Naik bus damri, lebih tepatnya.

Untuk pertama kalinya, saya pergi beribu kilometer tanpa orang tua saya. Bali. Pulau dewata itu.

Untuk pertama kalinya, saya naik bis sendirian dalam perjalanan dari Surabaya menuju ke Jakarta.

Untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di Denpasar, Bali.

Untuk pertama kalinya, saya bertemu langsung dengan seorang mahasiswa indonesia yang tengah berkuliah di Turki karena beasiswa yang ia terima.

Untuk pertama kalinya, saya menginjakkan kaki di Sekolah Tinggi Pariwisata. Sekolah yang bahkan dahulu tidak pernah terlintas barang sedetik pun dalam benak saya.

Untuk pertama kalinya, saya merasakan sakit hati.

Untuk pertama kalinya, saya melakukan hal bodoh pada orang-orang yang begitu berarti bagi saya.

Untuk pertama kalinya, saya tahu dengan pasti kemana saya harus melangkah setelah sekolah menengah atas berakhir.

Saya bersyukur atas banyak hal yang terjadi di tahun ini. Saya menangis karena putus asa tahun ini. Tetapi saya juga menangis karena sadar bahwa saya tidaklah sendiri dalam menghadapi ujian hidup. Karena ujian itu akan selalu ada, dan satu-satunya kunci untuk menghadapinya adalah menerima dan ikhlas. 

Klise.

Saya tertawa pahit tahun ini, mengingat banyak sekali rasa sakit yang saya derita dan betapa sulit untuk menutupi luka itu di depan banyak orang. Namun saya juga tertawa dengan lepas dan bahagia tahun ini. Ada banyak hal yang membuat saya mengangkat kedua ujung bibir saya untuk melepaskan rasa senang, dan hal-hal itu adalah hal-hal yang tidak saya sangka sama sekali.

Klise.

Saya hanya dapat membaca beberapa buku tahun ini. Saya hanya dapat menulis beberapa tulisan remeh-temeh tahun ini. Saya bahkan hanya menginjakkan kaki sekali ke bioskop lokal–itupun untuk menonton film gratis, yaitu Habiebie dan Ainun pada hari anak nasional.

Saya hanya belajar sebagian kecil tentang pelajaran di sekolah dibanding dengan teman-teman lainnya. Pun tentang pengalaman berorganisasi, masih sangat jauh di banding remaja enam belas tahun di luar sana yang sangat aktif dan berdedikasi tinggi.

Tapi di atas itu semua, saya bersyukur saya mencoba untuk bersyukur atas ujian yang saya terima, dan bersyukur atas kebahagiaan kecil yang kadang sering saya lupakan. Karena tanpa rasa syukur itu, mungkin saya tidak akan bisa seperti sekarang. Tanpa rasa syukur itu, saya pasti sudah tenggelam dalam samudera pikiran yang gelap dan kelam.

Di akhir tahun ini, saya merasa benar-benar ada perubahan dalam diri saya. Ada bagian dari diri saya yang menjadi lebih matang dalam memikirkan suatu persoalan, dan mencari solusinya tanpa tindakan gegabah. Saya begitu bersyukur…

Terakhir saya berharap, siapapun yang membaca tulisan ini dan menghadapi suatu ujian juga, tolong kuatkan dirimu. Saya tak akan bilang menguatkan diri itu mudah, karena saya sendiri butuh waktu enam hingga delapan bulan untuk menerima dan merasa ikhlas secara tulus dalam hati, jiwa, dan raga saya.

Ujian bagian dari kehidupan. Ini mungkin bagian terklise dari tulisan ini, tapi memang betul, kita selalu di uji hampir setiap waktu. Dan ingatlah, kalau kamu berhasil melalui ujian yang tengah kau hadapi, in sya Allah, dengan izin-Nya, iman mu akan bertambah dan rasa tenang yang nikmat akan segera menyejukkan hatimu.
Semoga kita semua bisa menjadi pribadi-pribadi yang jauh lebih baik dari hari ini.

Salam,

Syahra Affandi

Berguru pada Kesabaran dan Keikhlasan

Beberapa waktu yang lalu, di awal puasa tahun 2016, saya dan teman-teman dari sekolah saya diberikan kesempatan untuk menjadi seorang pengajar pesantren ramadan untuk adik-adik sekolah dasar disekitar sekolah saya. Sebagian besar dari kami telah menunggu waktu ini, karena siapa yang tahu, kapan lagi kami akan diberikan kesempatan untuk mengajar adik-adik di sekolah dasar.

Pesantren ramadan dilaksanakan selama lima hari, dengan jam yang bervariasi. Hal ini dibedakan sesuai dengan kelas yang sedang ditempati oleh adik-adik tersebut. Saat itu, saya dan seorang teman saya, Shenia, diberikan tugas untuk mengajar adik-adik yang duduk di kelas 5A.

Continue reading