Berguru pada Kesabaran dan Keikhlasan

Beberapa waktu yang lalu, di awal puasa tahun 2016, saya dan teman-teman dari sekolah saya diberikan kesempatan untuk menjadi seorang pengajar pesantren ramadan untuk adik-adik sekolah dasar disekitar sekolah saya. Sebagian besar dari kami telah menunggu waktu ini, karena siapa yang tahu, kapan lagi kami akan diberikan kesempatan untuk mengajar adik-adik di sekolah dasar.

Pesantren ramadan dilaksanakan selama lima hari, dengan jam yang bervariasi. Hal ini dibedakan sesuai dengan kelas yang sedang ditempati oleh adik-adik tersebut. Saat itu, saya dan seorang teman saya, Shenia, diberikan tugas untuk mengajar adik-adik yang duduk di kelas 5A.

Kejutan! Di kelas ini, jumlah siswa yang hadir adalah 21 orang. Sedangkan siswi yang hadir hanya 13 orang. Terbayang bukan, bagaimana suasana kelas yang ada? Begitu ramai dan penuh dengan canda, tawa, serta obrolan yang terlihat seru. Butuh beberapa waktu hingga akhirnya kami mendapatkan perhatian adik-adik itu. Kami memulai dengan perkenalan diri, kemudian tadarus quran, dan dilanjutkan dengan penyampaian materi yang ditugaskan oleh sekolah. Memang, tidaklah mudah dalam menyampaikan materi kepada adik-adik ini. Sebagian dari mereka berhasil menyimak hal hal yang telah kami utarakan, dan sebagian yang lainnya asyik tenggelam dalam obrolan soal game.

image

image

Syukurlah, hal itu tidak berlangsung lama. Adik-adik menjadi lebih tertarik dengan materi yang kami sampaikan setelah beberapa poin telah berlalu. Kebetulan, waktu itu topik yang tengah dibahas adalah hal hal yang membatalkan puasa, dan juga hal hal yang mengurangi pahala puasa. Di akhir materi, kami memberikan kuis seputar materi tadi, dan yang dapat menjawab secara cepat dan benar berhak mendapatkan hadiah. Hadiahnya memang sederhana, barang pensil sebatang-dua batang. Namun insyaAllah bisa bermanfaat. πŸ™‚

image

Pada hari kedua, kami lebih memfokuskan diri untuk mengejar ‘setoran’ adik-adik dalam menghapal surat Al-Baqarah ayat 183. Kami mewajibkan semua adik-adik yang hadir untuk menghapalkan ayat berikut dengan artinya dengan harapan mereka menjadi lebih paham bahwa puasa adalah kewajiban, dan insyaAllah dapat membuat kita semua lebih bertakwa dari sebelumnya. Ada beberapa siswa yang bahkan telah hapal sebelum kami minta, subhanallah! Adapula yang bacaannya telah tartil, dan tajwidnya sudah sangat bagus. Adik itu namanya Fadlan, dan ternyata setelah saya tanya selama beberapa waktu, tahfidznya telah sampai di surat Al-Qalam. Wuihh, sungguh sebuah pencapaian yang mengagumkan bukan? Mengingat bangku sekolah yang tengah ia enyam saat ini adalah sekolah dasar negeri.

Setelah itu, kami bermain rangking satu. Pertanyaannya bervariasi, namun pertanyaan yang saya berikan pada saat itu lebih menitik beratkan pada nabi dan rasul, karena itu adalah materi yang diberikan oleh sekolah untuk hari kedua. Pemenang dari permainan itu adalah seorang adik pintar bernama Rhona. Hadiahnya adalah tempat pensil!

image

image

Ada sebuah kejadian yang menyedihkan pada hari ketiga. Saya telat mengajar selama satu setengah jam! Meski saya sudah memberitahu Shenia bahwa saya akan datang telat, tetap saja meski sepenting apapun juga, saya tetaplah salah. Seharusnya saya meminta teman saya yang lain untuk membantu Shenia saat mengajar adik-adik itu. Tapi saya tidak melakukan itu. Ah sungguh, saya begitu menyesal dan meminta maaf, kawan….

Ketika saya tiba, Shenia baru saja ingin memulai game terakhir sebagai penutup. Caranya cukup mudah. Adik-adik ini diharuskan untuk memutar boneka kecil sambil diiringi lagi. Bila lagu yang diputar tiba-tiba mati, maka adik yang terakhir memegang boneka harus menjawab pertanyaan yang kami berikan. Jika jawabannya benar, maka boleh mendapatkan hadiah. Permainan ini berlangsung dengan sangat seru dan banyak juga yang gagal menjawab. Kami meminta mereka maju dan memberikan tugas tambahan, misal membaca surat Al-Asr saat itu juga. Semoga adik-adik ini tambah pintar yaa setelah pesantren ramadan bersama kami. πŸ™‚

Barang-barang yang kami bawa dan jadikan hadiah tidaklah mahal, bahkan beberapa adalah barang yang kami miliki sebelumnya, namun dalam kondisi baru, masih sangat baik, dan tidak pernah dipakai sama sekali. Mulai dari pensil, penghapus, gantungan kunci, tempat pensil, hingga aksesoris. Mungkin bisa menjadi sumber alternatif bagi teman-teman yang tahun depan juga akan mengajar di sekolah dasar pada saat pesantren ramadan, agar semua bisa mendapat hadiah namun tanpa membuat dompet begitu menjerit. πŸ˜€

Hari keempat menjadi hari terakhir pesantren ramadan intensif dengan kelas 5A karena dihari kelima nantinya akan dilaksanakan buka puasa bersama, berbarengan dengan kelas empat. Seperti biasa, dimulai dengan tadarus dan dilanjutkan dengan games. Bedanya, kali ini gamesnya menuntut adik-adik agar menjadi jeli dengan lingkungan sekitar. Shenia bertugas menyembunyikan kertas kecil yang berisikan soal-soal tertentu didalam kelas. Omong-omong, ini adalah hari pertama kelas 5A berada di dalam kelas saat pesantren ramadan. Tiga hari sebelumnya, adik-adik ini belajar di mushalla. Namun, khusus hari terakhir, kami memutuskan bertukar tempat dengan kelas 5B yang diajar oleh Ynez dan Chika.

Sambil menunggu Shenia meletakkan semua kertas yang berjumlah hampir lima puluh, saya mengajak adik-adik keluar kelas dan berbaris di koridor kelas. Saya memeriksa kuku mereka, dan mengingatkan untuk memotongnya terutama untuk yang putra, sebelum hari Jumat tiba. Karena Shenia berada cukup lama di dalam kelas, saya memutuskan untuk mengajarkan adik-adik ini sedikit mengenai peraturan baris-berbaris. Bagaimana cara lencang depan yang benar, lencang kanan, setengah lencang kanan, hadap kanan, hadap kiri, dan balik kanan. Cukup hal-hal yang simpel dan mudah saja, kok. Ilmu ini akan terus digunakan hingga SMP, SMA, bahkan hingga kuliah nanti. Terakhir, saya tutup dengan mengajarkan cara berjalan ditempat. Meski belum dapat kompak secara keseluruhan, namun saya senang adik-adik ini telah berusaha keras untuk mencoba.

Perburuan kertas kuis pun dimulai. Ada yang mencari diantara buku, dibelakang papan tulis, bahkan dibawah kursi! Ada-ada saja memang ide adik-adik ini. πŸ™‚ Yang bisa menemukan kertas dan menjawab dengan benar, maka (ya, lagi-lagi) akan diberikan hadiah! Namun, pengumuman pemenang serta hadiahnya baru akan diberikan pada saat buka bersama nantinya. Ternyata, pemenangnya adalah Christian (dia adalah seorang muslim, in case you’re wondering) dan Fauzan. Wiih, selamat!

image

image

Waktu itu, hari kelima jatuh pada hari rabu. Pada pukul empat, sekolah dasar itu sudah ramai dengan adik-adik yang ingin ikut berbuka puasa bersama. Alhamdulillah.. Setelah itu barulah rangkaian acara dimulai di lapangan sekolah. Saat itu, saya mendapatkan job tambahan dengan menjadi MC, bersama dengan seorang teman saya, Terry. Meski saya belum pernah membawakan sebuah acara sebelumnya, saya berusaha untuk memberikan usaha yang semaksimal mungkin, agar acara berlangsung tidak membosankan. Setelah pembukaan, saya dan Terry meminta satu orang siswa dan satu orang siswi untuk menyampaikan kesan dan pesannya selama para siswa SMA mengajar disini. Hadiah yang diberikan adalah gantungan kunci dolar Singapura. Lumayan bagus, bukan? ^^

Setelah itu diakhiri dengan tilawah sembari menunggu adzan maghrib. Ketika adzan maghrib datang, kami para siswa SMA langsung menuju salah satu ruangan kelas untuk mengambil makanan dan minuman yang telah disiapkan untuk berbuka. Alhamdulillah….

Selama lima hari, saya memang orang yang terlihat hanya mengajar kepada adik-adik kelas 5A. Padahal sesungguhnya, saya juga belajar banyak dari adik-adik ini. Saya belajar untuk menjadi sabar dalam menghadapi karakter yang berbeda dari setiap individu. Saya juga belajar untuk ikhlas, terutama saya belajar pada kawan saya, Shenia yang tetap semangat dan bahkan tidak marah kepada saya ketika saya datang telat. Dia hanya menasihati saya, dan sungguh terlihat bahwa dia sudah mengikhlaskan. Saya sungguh kagum kepadanya, dan saya bertekad bahwa saya akan berusaha menjadi seseorang yang dapat mengikhlaskan, dan tepat waktu walau ada halangan dan rintangan yang begitu berat sekalipun.

Ini adalah salah satu pengalaman saya yang paling berharga dalam hidup, dan saya rasa tidak akan pernah bisa luput dari ingatan saya. Semoga apa yang telah saya dan teman-teman SMA lakukan dapat menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi adik-adik sekolah dasar tersebut. πŸ™‚ Dan juga ilmu yang telah kami sampaikan lekat dalam pikiran hingga dapat disampaikan kembali kepada orang lain. Aamiin yaAllah..

Salam,
Syahra

Advertisements

2 thoughts on “Berguru pada Kesabaran dan Keikhlasan

  1. Rona ayu mentari July 15, 2016 / 11:50 AM

    Kak,aku suka bgt sama link kaka ini. Aku jd terinspirasiii, makasii kak udh namabhin ilmu buat kita2, sukses trus ya kak
    Barakallah
    Ronaa😊

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s